Islam Rahmatan Lil Alamin

Islam itu adalah agama yang bersifat universal, humanis dan kontekstual. Islam adalah rahmat bagi semeseta alam. Posisinya sebagai agama yang merahmati seluruh alam sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya. Maraknya peristiwa terorisme dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam tidak pelak menggelitik banyak orang untuk mempertanyakan kembali adagium Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Bagaimana Islam yang seharusnya menjadi penyemai perdamaian bagi umat manusia di muka bumi ternyata ditampilkan dengan wajah keras dan garang, bukan saja bagi non-muslim tapi juga bagi sesama muslim, melalui bahasa-bahasa jihad, kafir, bid’ah, sesat, dan lain sebagainya.

Jika melihat dari kondisi tersebut umat muslim saat ini belum atau bisa dikatakan kurang mampu membawa agamanya dengan baik dan benar. Ketidakmampuan itulah yang menjadi salah satu penghalang hadirnya Islam yang penuh kedamaian dan kesejukan. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa “ketinggian ajaran Islam tertutup oleh perilaku umat muslim sendiri”. Bahkan Muhammad Iqbal menyatakan bahwa “kemunduran umat muslim bukanlah dari ajaran agamanya, tetapi kesalahan terletak didalam pribadi masing-masing.” Perilaku yang mereka lakukan terkadang bertolak belakang dengan sumber aslinya, yang ironisnya mereka tetap mempertahankan pemikiran tersebut dengan cara apapun. Dari sinilah awal mulanya tindakan kekerasan atas nama agama lahir. Bukan hanya karena kejumudan berfikir seperti itu saja, kemunduran Islam pun terjadi karena kurang dewasa dalam beragama. Melihat dari keberagaman yang ada, kedewasaan beragama tentunya akan mengantarkan pada jalan perdamaian, kerukunan lintas kelompok, agama, etnis, suku dan ras yang akan mewarnai Islam dengan keindahan.

Gagasan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah gagasan yang komprehensif dan holistik. KH.Abdul Muchith Muzadi-kakak KH.Hasyim Muzadi- mengungkapkan bahwa dengan Islam Rahmatan Lil Alamin mampu membawa para muballighin membawakan Islam dengan penuh keramahan, kedamaian dan kebijaksanaan, mudah diterima oleh masyarakat dengan sukarela tanpa perlawanan dan kekerasan. Istilah Islam Rahmatan Lil Alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam Al-Qur’an, Allah SWT langsung yang memberikan istilah tersebut untuk  menyebut sebuah ajaran yang dibawah oleh Nabi Muhammad akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik. Sikap ini sebagai upaya untuk menghindari asumsi-asumsi negatif yang ditempelkan pada Islam.

Islam Rahmatan lil Alamin sebagai visi Islam adalah untuk menyebarkan perdamaian ditengah keberagaman dan perbedaan-perbedaan yang tidak dapat kita hindari. Konsep ukhuwah Islamiyah (hubungan sesama orang Islam) yang dideklarasikan Nabi Muhammad SAW termaktub dalam Piagam Madinah, menginspirasi lahirnya sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan adalah rahmat, bukan sebagai suatu alasan untuk dijadikannya propaganda, perseteruan, perbedaan, kelompok-kelompok dan lain sebagainya. Jadi tidaklah etis jika kita menjadikan alasan itu dengan mengatasnamakan Islam.

Pelbagai kekerasan yang terjadi pada dewasa ini, tidak saja mengaburkan esensi ajaran Islam. Kekerasan, konflik dan merebaknya terorisme, menjadikan pihak non muslim semakin tidak simpati pada Islam. Kemudian memunculkan berbagai kelompok-kelompok Islam yang memiliki paham tekstual dan kaku beragama, sehingga muncullah tragedy-tragedi secara beruntun yang merupakan pertarungan sosio-politik yang didasarkan pada sentiment suku dan agama. Politisasi agama adalah penyebab utama konflik agama yang berkepanjangan.

Islam tidak hanya bersifat ko-ekstitensi lintas batas, lintas agama dan suku, tetapi pro-eksitensi tentang proyeksi kehidupan yang saling bergandengan, dengan laku tindak santun, damai dan saling pengetian. KH Hasyim Muzadi mengatakan bahwa hakikat semua ajaran agama mengajarkan perdamaian, kesejahteraan, kelemahlembutan dan toleransi. Jika terdapat kelompok agama melakukan anti-damai, anti-toleransi dan melakukan tindak kekerasan, pastikan bahwa dirinya telah membajak agama. Agama tidak dapat dijadikan alat untuk kepentingan politik atau ekonomi. Karena menciptakan perdamaian adalah kewajiban semua agama.

Islam Rahamatan Lil Alamin, menjadi upaya memperbaiki wajah baru Islam di mata dunia. Dengan mengedepankan gagasan ini maka Islam akan menjadi berkah untuk alam semesta dan menjadi agama rahmat bagi semua manusia. Konflik yang terjadi hanyalah kesalahpahaman dalam menyikapi berbagai perbedaan dalam pemikiran. Untuk itu dasar pertama yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah sifat ketauhidan. Saat ini, semangat ketauhidan yang kehilangan panggungnya membuat problem teologis orang-orang Islam. Diperlukan suatu penyegaran sebagai upaya implementasi ajaran Islam secara baik dan benar, kontekstual tapi tidak kehilangan asasnya, sehingga setiap orang muslim mampu membawa Islam dengan sifat kemanusiaan. Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dengan sikap ini menghantarkan seseorang menuju “Jalan Tuhan”.

Metode yang dikembangkan oleh KH Hasyim Muzadi didalam membawa Islam yang Rahmatan Lil Alamin, Islam yang tawassuth, yang tidak ekstrem ke kanan (liberalis) ataupun ke kiri (fundamentalis) melalui tiga pendekatan yang seimbang. Pertama, pendekatan dakwah. Penerapan pendekatan ini lebih kepada diri seorang mursyid (pembimbing), dalam bahasa tasawuf. Mengajak orang yang berbuat jelek menjadi baik dan orang yang sudah baik ditingkatkan lagi kualitasnya. Dalam konteks ini, seorang pendakwah mencarikan dulu illat-nya kemudian mencarikan obat penyembuhnya sesuai proporsinya. Jadi seorang pendakwah harus mengetahui kebutuhan masyarakat, tempat berdakwahnya.

Kedua, pendekatan hukum. Pendekatan ini untuk orang-orang yang sudah siap melaksanakan syariat Islam secara total dan komprehensif maka disediakan tempat, yakni civil society tidak dalam nation-state. Ketiga, pendekatan politik. Pendekatan ini menyangkut tata hubungan agama dan negara, hubungan nasional dan internasional. Dan semua itu tetap memakai tawassuth (kontekstual) dan i’tidal (metodologisnya) sebagai dasar.

Hasyim Muzadi mengatakan bahwa Pancasila bukan agama, tetapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan,tetapi titik temu antara banyak perbedaan jalan. Pancasila adalah dasar negara yang membedakan antara negara agama dan negara sekuler, ia bukan agama,namun melindungi semua agama dan etnik. Dengan demikian, melalui pendekatan ini maka visi Islam adalah membangun masyarakat Islam (Islamic Society) dari pada membangun Negara Islam (Islamic State). Karena Islam adalah agama dan Islam bukanlah Negara. (Delta Anjarlita, Islam Rahmatan Lil Alamin pemikiran KH Hasyim Muzadi)

 

 

Iklan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.